1. Pengalaman Gabung d'BC Network
Jujur….tawaran kerja banyak. Gaji lumayan lah hehehe..tapi mengapa sih harus pilih bisnis Oriflame? Mengapa juga bergabung bersama dbc network yang jadi pilihan??
Saya seorang ibu rumah tangga dari 3 orang anak yang punya pemikiran sederhana dan simple..mimpi saya pun gak neko neko..dari sebelum menikah saya punya mimpi jika kelak saya menikah dan punya anak ingin berhenti bekerja. Cukup punya bisnis di rumah tanpa harus meninggalkan mereka.
Mengapa harus oriflame? Gabungnya murah, produk2nya terbuat dari bahan2 alami, gak takut dipalsu..karna smua produk oriflame tdk boleh dijual di toko2, harus membeli melalui kantor cabang.. Dan yang utama adalah produk2 oriflame telah melewati Badan POM sebelum meluncur di pasaran.Dan yg pasti sebagai member setiap kali blanja sy akan mendapatkan disc.. Harga bener-bener terjangkau..
Mengapa harus melalui dbc network??
Karena hanya melalui dbc network, saya dapat mewujudkan mimpi saya untuk mempunyai bisnis yang dijalankan cukup dari rumah. Fasilitas online 24 jam dan full support. Siapa bilang di rumah tidak bs menghasilkan apa-apa? Itu tidak terjadi di dbc network.kita bisa bekerja dari rumah dan follow up downline2 tersayang saya cukup dari rumah.stiap tgl 3 akan ada bonus yang akan masuk ke rekening mandiri saya stiap bulannya. Tentunya dengan kerja keras saya yang cukup dilakukan di rumah..saya bisa mengatur jadwal ke kantor Oriflame sminggu 2x dan tetap mengikuti training2 yang diadakan oleh Oriflame balikpapan.namun bgitu saya tidak perlu keluar rumah untuk 8 jam bukan?
Bonus Oriflame tidak kalah dengan gaji kantoran kok…
Dekat dengan anak2 dan bekerja di rumah adalah sesuatu yang Luar Biasaaaaa nikmatnya bagi saya.
GO DIRECTOR!
Pengalaman dari Mba Wiralianty Galuh
2. Sukses selagi Muda
Ketika teman-teman saya mengejar pekerjaan di perusahaan yang bagus dan bergengsi, saya justru tidak bersemangat melamar kerja. Bukan karena saya tidak kompeten (fyi: IP 3.3, aktif organisasi, dan TOEFL prediction 533), melainkan karna saya yakin, PASTI ADA cara lain untuk mencari penghasilan, tanpa ngantor. “Pekerjaan” yang level kerja kerasnya sama (atau bisa jadi lebih ringan), tapi dengan penghasilan berkali lipat dibanding gaji kantoran.
Mungkin jawabannya adalah bisnis. Bisnis apa? Saya gak ada pengetahuan berbisnis, juga gak tau apa yang bisa di-bisnis-kan.
Saya lalu dipertemukan dengan dBCN. Pertama kali memang hanya tertarik untuk membeli produk Oriflame, tapi begitu saya tau sistemnya: website replika, autoresponder, sistem online, internet marketing, saya yakin ini akan berhasil. Kenapa? Karena saya merasa gak pinter ngomong, gak bisa jualan, down kalo ditolak, DAN internet adalah alat yang tepat untuk “ketemu” banyak orang. Semuanya bisa dipelajari.
Lalu, mau ngga mau, saya terima juga 1 pekerjaan kantoran yang saya anggap sementara. Toh dBCN pun masih bisa disambi, saking fleksibelnya bisnis ini :D Perlahan, kerja kantoran di siang hari dan bisnis dBC di malam hari, gaji saya di dBCN-Oriflame semakin naik, sementara gaji kantor saya segitu-segitu aja dari awal. Sampai pada titik ini, saya beranikan resign dari kantor. Resign dari pekerjaan pertama (dan semoga terakhir) saya setelah lulus kuliah, untuk lebih serius lagi berbisnis di dBCN.
Saat ini saya di level Director dengan bonus 5jt-an perbulan plus cash award 7 juta dan masih akan naik, naik, dan naik lagi..
Kenapa saya berani resign?
Karena saya tau, masa depan saya gak cuma butuh uang. Gak cuma butuh nabung di rekening. Tapi juga nabung waktu. Saya punya rencana-rencana masa depan (menikah, beli rumah sendiri, beli mobil sendiri) dan juga ingin punya waktu untuk orangtua, suami (nantinya), terutama: anak. Fenomena yg saya amati sekarang, banyak ibu muda tetep kerja kantoran meninggalkan putra/putrinya, bukan karena ingin bekerja tapi karena butuh, karena alasan ekonomi yang makin mendesak, dan gaji suami ngga cukup. Coba lihat kiri-kanan, ada berapa yang kasusnya sama di lingkunganmu?
Lain lagi yang saya amati di dBCN, banyak ibu muda yang berani resign dengan alasan bisa mengurus putra/putrinya namun bonusnya di dBCN sudah mengalahkan nominal gaji kantorannya. Gak cuma itu, mereka punya waktu lebih banyak untuk mereka sendiri, juga untuk keluarga.
Saya belum jadi seorang ibu, belum menikah juga. Tapi kalau sudah banyak contoh sukses dan cerita dengan permasalahan yang kurang lebih sama, kenapa harus menunggu sampai butuh?
Yuk, ambil alih kendali hidupmu dimasa depan nanti!
Annissa Sagita, 25th, Director !!
Pengalaman dari Mba Annissa Sagita, 25th, Director
Mungkin jawabannya adalah bisnis. Bisnis apa? Saya gak ada pengetahuan berbisnis, juga gak tau apa yang bisa di-bisnis-kan.
Saya lalu dipertemukan dengan dBCN. Pertama kali memang hanya tertarik untuk membeli produk Oriflame, tapi begitu saya tau sistemnya: website replika, autoresponder, sistem online, internet marketing, saya yakin ini akan berhasil. Kenapa? Karena saya merasa gak pinter ngomong, gak bisa jualan, down kalo ditolak, DAN internet adalah alat yang tepat untuk “ketemu” banyak orang. Semuanya bisa dipelajari.
Lalu, mau ngga mau, saya terima juga 1 pekerjaan kantoran yang saya anggap sementara. Toh dBCN pun masih bisa disambi, saking fleksibelnya bisnis ini :D Perlahan, kerja kantoran di siang hari dan bisnis dBC di malam hari, gaji saya di dBCN-Oriflame semakin naik, sementara gaji kantor saya segitu-segitu aja dari awal. Sampai pada titik ini, saya beranikan resign dari kantor. Resign dari pekerjaan pertama (dan semoga terakhir) saya setelah lulus kuliah, untuk lebih serius lagi berbisnis di dBCN.
Saat ini saya di level Director dengan bonus 5jt-an perbulan plus cash award 7 juta dan masih akan naik, naik, dan naik lagi..
Kenapa saya berani resign?
Karena saya tau, masa depan saya gak cuma butuh uang. Gak cuma butuh nabung di rekening. Tapi juga nabung waktu. Saya punya rencana-rencana masa depan (menikah, beli rumah sendiri, beli mobil sendiri) dan juga ingin punya waktu untuk orangtua, suami (nantinya), terutama: anak. Fenomena yg saya amati sekarang, banyak ibu muda tetep kerja kantoran meninggalkan putra/putrinya, bukan karena ingin bekerja tapi karena butuh, karena alasan ekonomi yang makin mendesak, dan gaji suami ngga cukup. Coba lihat kiri-kanan, ada berapa yang kasusnya sama di lingkunganmu?
Lain lagi yang saya amati di dBCN, banyak ibu muda yang berani resign dengan alasan bisa mengurus putra/putrinya namun bonusnya di dBCN sudah mengalahkan nominal gaji kantorannya. Gak cuma itu, mereka punya waktu lebih banyak untuk mereka sendiri, juga untuk keluarga.
Saya belum jadi seorang ibu, belum menikah juga. Tapi kalau sudah banyak contoh sukses dan cerita dengan permasalahan yang kurang lebih sama, kenapa harus menunggu sampai butuh?
Yuk, ambil alih kendali hidupmu dimasa depan nanti!
Annissa Sagita, 25th, Director !!
Pengalaman dari Mba Annissa Sagita, 25th, Director